Senin, 09 April 2012

Kala Futur Itu Datang…


“Setiap amal itu ada masa syarrahnya (semangat).
Setiap masa semangat itu ada masa fatrahnya (lemah dan malas). 
Barangsiapa yang masa fatrahnya kembali pada sunnahku,
berarti ia letah mendapatkan petunjuk”
(H.R Bukhari)


           
Saudariku…  Di jalan ini kita merasakan ketenangan, suasana penuh kedekatan kepada Allah, penuh semangat melakukan amalan sunnah, bahkan berlomba bersama akhawaat dalam ketaatan kepada Allah.  Di jalan ini, kita merasakan indahnya Islam, dan menginginkan keindahan ini juga diketahui dan dirasakan oleh yang lain.  Sehingga aktivitas dakwah menghiasi keseharian kita; menyebarkan ajaran Islam, mengenalkan tentang Allah, mencintai Rasulullah, menyerukan keyakinan akan kebenaran Al Quran, menanamkan rasa bangga akan Islam yang agung.  Mengajak, mengajak, dan mengajak… 
Saudariku… di jalan ini kita merasakan indahnya berdakwah….
Mengemas kegiatan dakwah dengan kreatifitas yang menarik yang dihiasi dengan musyawarah yang panjang, tak jarang adu pendapat dalam suasana ukhuwah.  Kita merasakan ketenangan ketika berjalan bersama menyusuri koridor kampus demi mengajak seseorang turut merasakan agama yang mulia ini.  Kita pun mungkin pernah berjalan dari satu mushalla ke mushalla yang lain demi membawa pamflet dakwah untuk disebar di mading mushalla, berlari bersama hujan saat membawa undangan kamat, menahan kantuk di malam hari demi menyelesaikan materi yang akan dibawakan esok harinya.  Kita pun merasakan betapa bahagianya ketika kamat dan daurah dipenuhi sesak peserta.  Betapa haru yang menyeruak ketika melihat adik – adik yang baru belajar Islam pun juga telah turut andil dalam perjuangan ini.  Betapa semangat semakin membara tatkala melihat mushalla penuh dengan aktivitas keagamaan, suasana yang sangat menghadirkan ketenangan, kedamaian.  Semua penat, lelah, pegal hilang seketika.  Seakan suasana seperti ini tak ingin tergantikan.
Tapi kemudian kita merasakan sesuatu yang berbeda.  Perlahan – lahan banyak kebaikan yang hilang dari diri kita.  Masalah demi masalah muncul satu per satu.  Pikiran yang cenderung tumpul, bimbang dan goyah dengan pendapat tertentu.  Jiwa kemudian merasakan kelemahan, kemalasan “aneh” yang menerpa, hingga menghalangi kita dari ketaatan, menahan kita dari gerak, membelenggu kita dari berpikir.  Saat itu, kita mungkin melakukan kebaikan di bawah tekanan yang “memaksa”.  Sesuatu yang terpaksa dilakukan sudah pasti kehilangan ruh, tanpa aura iman, tanpa cinta dan kerinduan, terasa kering dan kaku, hati terasa hampa.  Inilah yang dinamakan kefuturan, rasa lemah dan malas setelah sebelumnya semangat yang bergelora.
            Saudariku… Sudah sunnatullah, segala yang ada di dunia ini berpasangan, ada putih dan hitam, ada gelap dan terang, ada gembira dan sedih.  Tak terkecuali ketika seseorang mencelupkan dirinya pada satu aktivitas mulia, berdakwah ilallah.  Mereka pun akan mengalami dua hal yang berbeda, masa semangat dan masa malas (futur).  Futur adalah masa melambatnya gerakan setelah semangat, cenderung kepada malas dan diam, mengutamakan santai dan istrahat.  Futur hanya dialami oleh orang-orang yang pernah merasakan kondisi serius dan semangat dalam ketaatan dan berdakwah.  Saudariku… Di jalan ini memang penuh onak dan duri, penuh rintangan, penuh pengorbanan, namun akan berbuah manis dan kenikmatan.  Tidak ada kenikmatan bagi yang tidak mau berkorban untuk merasakan kenikmatan.  Seseorang tidak akan bisa merasakan lezatnya coklat panas dan roti tawar bakar ketika hujan di sore hari, bila ia tidak bergerak untuk membuatnya.  Coklat bubuk tidak akan lezat bila dimakan bersama roti tawar. 
            Di jalan ini, kita semua pernah mengalami situasi lemah, seperti juga umumnya orang – orang shalih.  Mereka mengalami kondisi futur sesuai tingkatannya masing-masing dan rentang waktu yang bebeda.  Ada yang hanya melewatinya dalam waktu yang relatif sebentar, ada pula yang lebih lama.  Saudariku…  Orang yang berhasil adalah orang yang mampu memendekkan waktu futurnya dan memanjangkan waktu semangatnya.
            Saudariku…  Ketika Allah memberi petunjuk kepada kita untuk menemui jalan ini, ketika Allah menempatkan kita berada pada barisan penyeru dakwah, ketika itulah sesungguhnya kita telah memilih jalan yang meletihkan.  Ketika itulah sebenarnya kita telah menjatuhkan pilihan untuk tidak banyak beristirahat, tidak membiarkan terlalu banyak dan lama mengidap penyakit malas (futur).
Saudariku…  Allah sangat mencintai kita, bahkan saat kita tergelincir pun.  Bersyukurlah atas semua kondisi yang kita dapatkan.  Di kala rasa futur itu hinggap, jang biarkan berlama – lama menetap bahkan bersemayam dalam diri kita. Merenung sendiri berhari – hari, menghindar dari akhwat, menjauh dari amanah, bukanlah solusi terbaik.  Mungkin saat itu kita merasakan ketenangan, tapi itu adalah ketengan yang semu.  Ketenangan yang abadi adalah ketika hati ini seantiasa mengingatNya, rindu bertemu denganNya.  Dan itu kita dapatkan bersama saudari fillah yang mencintai kita karena Allah. Kita dapatkan dalam mengamban amanah dakwah…
Saudariku…  Apa yang membuat kita berlama – lama dalam perasaan futur ini?
Coba renungkan bila Allah tidak mempertemukan kita dengan saudara – saudara di jalan dakwah…  Bila kita sampai saat ini tidak bertemu dengan kumpulan orang – orang yang mengajak kepada akhirat.  Bila tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk berdakwah, berada dalam barisan pengurus organisasi Islam, tidak terlibat dalam dakwah dan perjuangan ini.  Apa yang terjadi jika hari – hari kita tidak pernah disibukkan dengan dakwah dan tarbiyah, tetapi hidup dalam dunia yang menipu?  Apa pula yang kita lakukan saat ini bila kita tidak pernah dipertemukan dengan mereka yang tetap konsisten mengajak pada kebaikan?  Apa yang terjadi bila kenikmatan  - kenikmatan itu sudah tidak ada lagi?  Hilang bersama kefuturan yang kita pelihara, yang semakin hari semakin subur?  Sedang apa kita sekarang???
Inilah diantara nikmat dan kasih saying Allah kepada kita.  Jangan pernah berlama – lama dalam keterpurukan ukhti.  Insya Allah, setelah kesulitan ada kemudahan. 
Mari kembali…  Bersama berjuang di atas jalan ini, mencari ridha Allah.  Jannah menanti kita

Sudah Tawakkalkah Kita? (Renungan bagi Aktivis Dakwah Kampus)

-->

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana memberi rezeki kepada burung, (yang) pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (H.R Ahmad)

Suatu ketika, ada seorang sahabat datang menemui Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam namun untanya tidak diikat dengan mengatakan bertawakkal kepada Allah.  Rasulullah kemudian bersabda : “ikat dulu, baru bertawakkal” (H.R Ibnu Hibban dari Amr bin Umayyah ad-Darimi).
Tawakkal adalah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar (berusaha).  Sebagian ulama mengatakan, “Tidak dikatakan tawakkal, kecuali setelah adanya upaya dan ditempuhnya sebab.”
Secara toeri, konsep ini sangat mudah diingat dan diucapkan, tapi dalam tataran aplikasi, begitu banyak yang terjatuh, bahkan seorang aktivis dakwah kampus (ADK) sekali pun.  Padahal, dalil – dalil tersebut merupakan konsumsi sehari – hari bagi mereka. 
Wahai Aktivis Dakwah Kampus, sadarlah bahwa Syaithan sangat pintar dalam menggelincirkan manusia, begitu banyak senjata ampuh yang mereka miliki.  Maka dibutuhkan ilmu dan iman yang tebal dalam melakukan aktivitas keseharian kita.
Begitu banyak dalih yang dilontarkan seorang ADK ketika ditanya tentang kondisi dakwah kampusnya yang semakin terpuruk; “ini karena si fulanah terlalu larut dengan masalah pribadinya”, “si-PJ sibuk menyelesaikan skripsi”, “tidak ada yang berinisiatif, semua menunggu diarahkan sementara sang pemberi arahan hilang entah ke mana”, dsb.  Beginikah ADK hari ini?  Ketika dimintai pertanggungjawaban di hadapan manusia begitu banyak dalih yang dilancarkan, begitu banyak orang yang dengan mudahnya disebutkan bersalah dalam hal ini.  Hati – hati!!!!  Karena sikap saling menyalahkan terkadang lahir dari adanya perasaan kita yang lebih sibuk dibandingkan yang lain.  Bukankah ini juga bentuk sombong?
Kemaksiatan dalam diri seseorang akan mengundang hadirnya kemaksiatan yang lain.  Bisa jadi fenomena di atas muncul karena kurangnya tawakkal yang menghiasi pergerakan kita.  Tawakkal harusnya lahir setelah melakukan ikhtiar.  Namun, apa yang lahir dari seorang ADK setelah melakukan ikhtiar, berdakwah, mengajak saudarinya pada Islam?  Apa yang lahir pada diri kita saudariku??  Sudahkah tawakkal itu muncul dan mewarnai setiap perjalanan kita?  Atau justru yang lahir adalah sikap menyalahkan yang lain?  Mari berhenti sejenak, melihat ke belakang untuk meluruskan langkah kita ke depan.  Melihat dan merenungi, adakah tawakkal itu selalu hadir dalam aktivitas dakwah kita?  Dalam keseharian kita?
Keutamaan Tawakkal
1.      Dicukupkan rezekinya dan dimudahkan urusannya
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” (Q.S Ath Thalaq : 3)
Artinya, Allah menyelamatkan dan melepaskannya dari kesusahan dunia maupun akhirat, dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

2.      Dilindungi dari godaan syaithan
“Sesungguhnya tiada baginya syaithan memiliki kuasa untuk menggoda atas orang – orang yang beriman dan orang – orang yang bertawakkal kepada Allah” (Q.S An Nahl : 99)

3.      Menjadi orang yang kuat dan tangguh
Imam Ahmad mengatakan : Barang siapa ingin menjadi orang tekuat, hendaknya dia bertawakkal kepada Allah

4.      Dapat menolak kejahatan
Ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam dilempar ke dalam sumur, beliau membaca “hasbunallahu wa ni’mal wakil” sehingga diselamtkan oleh Allah.  Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga menyatakan sebagaiman Nabi Yusuf sehingga diselamatkan dari kobaran api.  Aisyah radhiallahu anhu juga membaca doa tersebut sehingga Allah selamatkan dari fitnah haditsul ifki (kabar bohong) yang dilontarkan orang – orang munafik.
Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Barangsiapa bersandar pada hartanya, maka ia akan berkurang; barangsiapa bersandar pada akalnya, maka akan sesat; barangsiapa bertumpu pada jabatan kedudukannya, maka ia menjadi hina; dan barangsiapa bersandar pada Allah, maka ia tidak akan kurang, sebab Allah akan mencukupinya, ia tidak akan sesat dan tidak pula terhina”

Subahanallah…  Indahnya perjuangan ini bila tawakkal menghiasi pergerakan kita.  Begitu banyak pertolongan yang Allah janjikan kepada orang – orang yang bertawakkal.  Ayat Al Quran yang menjadi motto sebagian ADK “intanshurullaha yanshurkum” insya Allah akan kita raih, dengan memperbanyak ibadah, dan tidak meninggalkan perintah Allah, salah satunya bertawakkal.  Allahu a’lam