“Setiap amal itu ada masa syarrahnya (semangat).
Setiap masa semangat itu ada masa fatrahnya (lemah dan malas).
Barangsiapa yang masa fatrahnya kembali pada sunnahku,
berarti ia letah mendapatkan petunjuk”
(H.R Bukhari)
Saudariku… Di jalan ini kita merasakan ketenangan,
suasana penuh kedekatan kepada Allah, penuh semangat melakukan amalan sunnah,
bahkan berlomba bersama akhawaat dalam ketaatan kepada Allah. Di jalan ini, kita merasakan indahnya Islam,
dan menginginkan keindahan ini juga diketahui dan dirasakan oleh yang
lain. Sehingga aktivitas dakwah
menghiasi keseharian kita; menyebarkan ajaran Islam, mengenalkan tentang Allah,
mencintai Rasulullah, menyerukan keyakinan akan kebenaran Al Quran, menanamkan
rasa bangga akan Islam yang agung.
Mengajak, mengajak, dan mengajak…
Saudariku… di jalan ini kita merasakan
indahnya berdakwah….
Mengemas kegiatan dakwah dengan kreatifitas
yang menarik yang dihiasi dengan musyawarah yang panjang, tak jarang adu
pendapat dalam suasana ukhuwah. Kita merasakan
ketenangan ketika berjalan bersama menyusuri koridor kampus demi mengajak
seseorang turut merasakan agama yang mulia ini.
Kita pun mungkin pernah berjalan dari satu mushalla ke mushalla yang
lain demi membawa pamflet dakwah untuk disebar di mading mushalla, berlari
bersama hujan saat membawa undangan kamat, menahan kantuk di malam hari demi
menyelesaikan materi yang akan dibawakan esok harinya. Kita pun merasakan betapa bahagianya ketika
kamat dan daurah dipenuhi sesak peserta.
Betapa haru yang menyeruak ketika melihat adik – adik yang baru belajar
Islam pun juga telah turut andil dalam perjuangan ini. Betapa semangat semakin membara tatkala
melihat mushalla penuh dengan aktivitas keagamaan, suasana yang sangat
menghadirkan ketenangan, kedamaian. Semua penat, lelah, pegal hilang
seketika. Seakan suasana seperti ini tak
ingin tergantikan.
Tapi kemudian kita merasakan sesuatu yang
berbeda. Perlahan – lahan banyak
kebaikan yang hilang dari diri kita.
Masalah demi masalah muncul satu per satu. Pikiran yang cenderung tumpul, bimbang dan
goyah dengan pendapat tertentu. Jiwa
kemudian merasakan kelemahan, kemalasan “aneh” yang menerpa, hingga menghalangi
kita dari ketaatan, menahan kita dari gerak, membelenggu kita dari
berpikir. Saat itu, kita mungkin
melakukan kebaikan di bawah tekanan yang “memaksa”. Sesuatu yang terpaksa dilakukan sudah pasti
kehilangan ruh, tanpa aura iman, tanpa cinta dan kerinduan, terasa kering dan
kaku, hati terasa hampa. Inilah yang
dinamakan kefuturan, rasa lemah dan malas setelah sebelumnya semangat yang
bergelora.
Saudariku… Sudah
sunnatullah, segala yang ada di dunia ini berpasangan, ada putih dan hitam, ada
gelap dan terang, ada gembira dan sedih.
Tak terkecuali ketika seseorang mencelupkan dirinya pada satu aktivitas
mulia, berdakwah ilallah. Mereka pun
akan mengalami dua hal yang berbeda, masa semangat dan masa malas (futur). Futur adalah masa melambatnya gerakan setelah
semangat, cenderung kepada malas dan diam, mengutamakan santai dan istrahat. Futur hanya dialami oleh orang-orang yang
pernah merasakan kondisi serius dan semangat dalam ketaatan dan berdakwah. Saudariku… Di jalan ini memang penuh onak dan
duri, penuh rintangan, penuh pengorbanan, namun akan berbuah manis dan
kenikmatan. Tidak ada kenikmatan bagi
yang tidak mau berkorban untuk merasakan kenikmatan. Seseorang tidak akan bisa merasakan lezatnya
coklat panas dan roti tawar bakar ketika hujan di sore hari, bila ia tidak
bergerak untuk membuatnya. Coklat bubuk
tidak akan lezat bila dimakan bersama roti tawar.
Di jalan
ini, kita semua pernah mengalami situasi lemah, seperti juga umumnya orang –
orang shalih. Mereka mengalami kondisi
futur sesuai tingkatannya masing-masing dan rentang waktu yang bebeda. Ada
yang hanya melewatinya dalam waktu yang relatif sebentar, ada pula yang lebih
lama. Saudariku… Orang yang berhasil adalah orang yang mampu
memendekkan waktu futurnya dan memanjangkan waktu semangatnya.
Saudariku… Ketika Allah memberi petunjuk kepada kita
untuk menemui jalan ini, ketika Allah menempatkan kita berada pada barisan
penyeru dakwah, ketika itulah sesungguhnya kita telah memilih jalan yang
meletihkan. Ketika itulah sebenarnya
kita telah menjatuhkan pilihan untuk tidak banyak beristirahat, tidak
membiarkan terlalu banyak dan lama mengidap penyakit malas (futur).
Saudariku…
Allah sangat mencintai kita, bahkan saat kita tergelincir pun. Bersyukurlah atas semua kondisi yang kita
dapatkan. Di kala rasa futur itu
hinggap, jang biarkan berlama – lama menetap bahkan bersemayam dalam diri kita.
Merenung sendiri berhari – hari, menghindar dari akhwat, menjauh dari amanah,
bukanlah solusi terbaik. Mungkin saat
itu kita merasakan ketenangan, tapi itu adalah ketengan yang semu. Ketenangan yang abadi adalah ketika hati ini
seantiasa mengingatNya, rindu bertemu denganNya. Dan itu kita dapatkan bersama saudari fillah
yang mencintai kita karena Allah. Kita dapatkan dalam mengamban amanah dakwah…
Saudariku…
Apa yang membuat kita berlama – lama dalam perasaan futur ini?
Coba renungkan bila Allah tidak
mempertemukan kita dengan saudara – saudara di jalan dakwah… Bila kita sampai saat ini tidak bertemu
dengan kumpulan orang – orang yang mengajak kepada akhirat. Bila tidak memberikan kesempatan kepada kita
untuk berdakwah, berada dalam barisan pengurus organisasi Islam, tidak terlibat
dalam dakwah dan perjuangan ini. Apa
yang terjadi jika hari – hari kita tidak pernah disibukkan dengan dakwah dan
tarbiyah, tetapi hidup dalam dunia yang menipu?
Apa pula yang kita lakukan saat ini bila kita tidak pernah dipertemukan
dengan mereka yang tetap konsisten mengajak pada kebaikan? Apa yang terjadi bila kenikmatan - kenikmatan itu sudah tidak ada lagi? Hilang bersama kefuturan yang kita pelihara,
yang semakin hari semakin subur? Sedang
apa kita sekarang???
Inilah diantara nikmat dan kasih saying
Allah kepada kita. Jangan pernah berlama
– lama dalam keterpurukan ukhti. Insya
Allah, setelah kesulitan ada kemudahan.
Mari kembali… Bersama berjuang di atas jalan ini, mencari
ridha Allah. Jannah menanti kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ittaqillaha haitsu maa kunta