Jumat, 15 Juni 2012

Meneladani Asiyah binti Muzahim, istri Firaun

Apa yang telah kita berikan untuk Islam???  Apa yang telah Islam berikan pada kita??
Saudariku, para aktivis dakwah.  Sepantasnyalah kita malu pada istri Firaun.  Betapa ujian yang diberikan Allah padanya tidaklah menjadikannya mundur dan berkurang keyakinannya pada Allah.  Betapa banyak diantara kita yang karena alasan "terdesak", menggadaikan keyakinan kita akan janji Allah pada orang-orang yang berjuang di atas jalanNya.
Marilah kita menengok pada kisah indah dalam perjuangan Islam, seorang wanita yang dijamin oleha Allah masuk syurga, Aisyah binti Muzahim, istri Firaun....

Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Firaun.  Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya.
Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka, "Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?" Mereka menyanjungnya.  Lalu Firaun berkata lagi kepada mereka,"Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku."  Berkatalah mereka kepadanya,"Bunuhlah dia!"
Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.
Dimulailah siksaan itu, Firaun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. 
Subhanallah…saudariku, mampukah kita (seorang aktivis dakwah) menghadapi siksaan semacam itu?

Saudariku...lihatlah apa yang dilakukan oleh Asiyah.  Siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu.  Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.
Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah.  Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini.  Ketika Firaun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.
Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdoa memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Quran,
"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim." (Qs. At-Tahrim:11)
Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Firaun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Firaun bingung dan terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya.
Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya.  Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.

Saudariku.., sepantasnyalah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini.  Perjuangan kita belum ada apa-apanya.  Tidak pantas hanya dengan kesibukan dakwah, menjadikan kita merasa lebih mulia dengan yang lain.  Bukan karena tingginya amanah yang menyebabkan kita masuk syurga.  Tapi sejauh mana keikhlasan yang kita miliki dalam berdakwah, dakwah ilallah.  Kemuliaan hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. 

Betapa wanita mulia ini meninggalkan gemerlap dunia untuk kembali pada Rabbnya.  Sepantasnyalah kita malu padanya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia.  

Berdoalah agar Allah senantiasa mengistiqomahkan kita sampai akhir kelak.  Jangan sampai karena gemerlapnya dunia kita rela menggadaikan pakaian kemulyaan kita, melepaskan hijab yang menutupi aurat kita, melepaskan aqidah yang mengakar kuat dalam dada kita..wal' iyaudzu billah..  
Berdoalah saudariku...mintalah pada yang membolak-balikkan hati.
Semoga Allah mengistiqomahkan diri-diri kita sampai akhir hidup kita.

6 komentar:

  1. subhanallah sungguh menyentuh cerita nya

    BalasHapus
  2. di balik kejam nya seorang suami di situ pula kesabaraan seorang istri yang sholeha

    BalasHapus
  3. bgt kuat iman nya sehingga dia tetap sbar menhadapi ujian yang di berikan nya

    BalasHapus
  4. bagus ni buat di tladani oleh seorang istri

    BalasHapus
  5. sungguh mulia hti seorang istri yang tetap teguh pada pendirian nya

    BalasHapus

Ittaqillaha haitsu maa kunta