Senin, 10 September 2012

Teruntuk Para Aktivis Dakwah

Kepada para pecinta ALLAH
Kepada yang meneladani Muhammad Rasulullah
Kepada yang menjadikan Al-Quran sebagai pedomannya
Kepada yang berjihad di jalanNya dengan sebenar-benarnya jihad
Kepada yang memburu syahid sebagai cita-cita tertingginya

Kepada yang mengaku sebagai pejuang....
Kepadamu kutulis curahan hati ini...

karena kuyakin, Engkaulah yang kan menjawabnya 
wahai aktivis dakwah

Mataku tlah lelah...lelah menyaksikan kemaksiatan semakin merajalela..,
Kakiku capek...capek melangkah, karena setiap kaki melangkah, yang kudapati
hukum-hukum Allah diganti dengan hukum-hukum makhluk yang hanya menebar kerusakan..,
Tubuhku smakin lunglai rasanya, karena
menemukan thoghut bersarang di amana-mana..,
Perih hati ini ketika menemukan saudara-saudara se-Islam dan se-iman saling hujat..,
Menangis batin ini menyaksikan saudara-saudara se-aqidah, yang mengamalkan sunnah, mendapatkan perlakuan tidak adil. 


Sejenak kuberhenti...mencoba melihat di belahan bumi yang lain.., kuberharap di sana ada pelangi indah yang kutemukan..
Tapi, malah yang kudapati saudara-saudaraku sedang mempertaruhkan nyawa melawan penjajah zionis.., mereka sedang megangkat senjata melawan musuh-musuh Islam..
 
Dadaku makin sesak...  Beribu tanya muncul, di mana para aktivis dakwah saat saudara-saudaranya  berburu syahid? 
Yang mereka pertaruhkan adalah nyawa ukhti.. NYAWA!!!

Jika darah belum mampu dialirkan, maka di mana kalian saat saudara-saudaramu sedang bermandi peluh menyiapkan kegiatan-kegiatan dakwah, acara-acara syiar Islam, dan seabrek agenda-agenda dakwah yang lain???

Di mana ukhti saat yang lain sedang membuat konsep kegiatan dengan menahan ngantuk, menyiapkan konsumsi tanpa mendahulukan perutnya, atau menyebar proposal dan mencari dana ke sana ke mari di tengah teriknya matahari bahkan hujan sekalipun???
Semua demi syiar Islam!!! Agar dakwah terus menggaung di berbagai penjuru. 
Agar Islam tetap berdetak di jantung masyarakat.., masyarakat yang kini phobi dengan syari'at Islam. Ya, masyarakat itu kini ada di sekeliling kita. Mereka hadir di tengah-tengah kita.

Untukmu para muharrikah,

Sudah teguhkah azzam yang kau tanam ???
Benarkah perjuanganmu karena ALLAH ???
Berhenti.., dan luruskan kembali niatmu, 

Jika...
Nafsu masih merajaimu..,
Kesenangan dunia masih melenakanmu..,
Syaithan masih bersarang di dadamu dan menjadi teman setiamu
Kenikmatan semu masih membuaimu dan menutup mata batinmu

Untuk jiwa-jiwa yang merindukan kemenangan
Untuk setiap diri yang mengaku sholihah
Untukmu yang mengajak kepada jalan yang lurus
Untukmu yang saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan


Kepada kalian yang mempertautkan hati di jalan dakwah ....
Kepada kalian yang menjalin ikatan kasih dalam indahnya ukhuwah ....
Kepada kalian yang merindukan tegaknya syari’ah ....
Kepada kalian, kuberharap perubahan besar ummat ini....
Menegakkan kalimat tauhid di muka bumi...

Hingga semua merasakan nikmat dan manisnya Islam..

Jumat, 13 Juli 2012

Buatku, Dakwah adalah ....

Buatku...,
dakwah adalah panggilan bagi jiwa - jiwa yang kuat
dakwah hanya bagi mereka yang mampu taklukkan tantangan
karena...
mengharap kenyamanan saat berdakwah seperti merindukan bulan di siang hari

Buatku...,
dakwah bukanlah karier dalam pekerjaan
maka tingginya amanah bukanlah tujuan dalam perjuangan.
Dakwah...,
Bukan pula sesuatu yang bisa dijalani saat nyaman lalu ditinggalkan saat sulit.
Maka tidak sepantasnya menjadikan kesibukan sebagai alasan meninggalkan amanah, kemudian istrahat darinya dengan dalih akan kembali setelah kesibukan selesai.
Karena kesibukan bagi manusia adalah hal yang mutlak terjadi, dengan atau tanpa amanah dakwah.

Buatku...,
dakwah adalah pilihan..
setiap pilihan memiliki konsekuensi..
Maka ketika hak-hak pribadi tak dapat dipenuhi, seharusnya tak ada tanya yang muncul dalam hati.
Tak perlu bertanya "ke mana yang lain???"
Lupakan pertanyaan "kenapa diri sendiri???"

Buatku...,
dakwah adalah sebuah ketulusan,
bukan untuk dipandang, bukan pula untuk dipuji
tetapi..
untuk dilakukan dengan ikhlas

Buatku...,
dakwah adalah kebutuhan
karena janji Allah bagi pejuang dakwah adalah SYURGA

Buatku...,
dakwah takkan pernah kutinggalkan
hingga takdir Allah berlaku pada diriku

Buatku...,
tak ada istrahat dari dakwah
karena istrahat buatku adalah ketika kakiku menginjak syurga.

Ya Allah...mudahkanlah

Jumat, 15 Juni 2012

Meneladani Asiyah binti Muzahim, istri Firaun

Apa yang telah kita berikan untuk Islam???  Apa yang telah Islam berikan pada kita??
Saudariku, para aktivis dakwah.  Sepantasnyalah kita malu pada istri Firaun.  Betapa ujian yang diberikan Allah padanya tidaklah menjadikannya mundur dan berkurang keyakinannya pada Allah.  Betapa banyak diantara kita yang karena alasan "terdesak", menggadaikan keyakinan kita akan janji Allah pada orang-orang yang berjuang di atas jalanNya.
Marilah kita menengok pada kisah indah dalam perjuangan Islam, seorang wanita yang dijamin oleha Allah masuk syurga, Aisyah binti Muzahim, istri Firaun....

Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Firaun.  Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya.
Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka, "Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?" Mereka menyanjungnya.  Lalu Firaun berkata lagi kepada mereka,"Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku."  Berkatalah mereka kepadanya,"Bunuhlah dia!"
Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.
Dimulailah siksaan itu, Firaun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. 
Subhanallah…saudariku, mampukah kita (seorang aktivis dakwah) menghadapi siksaan semacam itu?

Saudariku...lihatlah apa yang dilakukan oleh Asiyah.  Siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu.  Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.
Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah.  Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini.  Ketika Firaun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.
Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdoa memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Quran,
"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim." (Qs. At-Tahrim:11)
Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Firaun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Firaun bingung dan terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya.
Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya.  Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.

Saudariku.., sepantasnyalah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini.  Perjuangan kita belum ada apa-apanya.  Tidak pantas hanya dengan kesibukan dakwah, menjadikan kita merasa lebih mulia dengan yang lain.  Bukan karena tingginya amanah yang menyebabkan kita masuk syurga.  Tapi sejauh mana keikhlasan yang kita miliki dalam berdakwah, dakwah ilallah.  Kemuliaan hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. 

Betapa wanita mulia ini meninggalkan gemerlap dunia untuk kembali pada Rabbnya.  Sepantasnyalah kita malu padanya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia.  

Berdoalah agar Allah senantiasa mengistiqomahkan kita sampai akhir kelak.  Jangan sampai karena gemerlapnya dunia kita rela menggadaikan pakaian kemulyaan kita, melepaskan hijab yang menutupi aurat kita, melepaskan aqidah yang mengakar kuat dalam dada kita..wal' iyaudzu billah..  
Berdoalah saudariku...mintalah pada yang membolak-balikkan hati.
Semoga Allah mengistiqomahkan diri-diri kita sampai akhir hidup kita.

Senin, 09 April 2012

Kala Futur Itu Datang…


“Setiap amal itu ada masa syarrahnya (semangat).
Setiap masa semangat itu ada masa fatrahnya (lemah dan malas). 
Barangsiapa yang masa fatrahnya kembali pada sunnahku,
berarti ia letah mendapatkan petunjuk”
(H.R Bukhari)


           
Saudariku…  Di jalan ini kita merasakan ketenangan, suasana penuh kedekatan kepada Allah, penuh semangat melakukan amalan sunnah, bahkan berlomba bersama akhawaat dalam ketaatan kepada Allah.  Di jalan ini, kita merasakan indahnya Islam, dan menginginkan keindahan ini juga diketahui dan dirasakan oleh yang lain.  Sehingga aktivitas dakwah menghiasi keseharian kita; menyebarkan ajaran Islam, mengenalkan tentang Allah, mencintai Rasulullah, menyerukan keyakinan akan kebenaran Al Quran, menanamkan rasa bangga akan Islam yang agung.  Mengajak, mengajak, dan mengajak… 
Saudariku… di jalan ini kita merasakan indahnya berdakwah….
Mengemas kegiatan dakwah dengan kreatifitas yang menarik yang dihiasi dengan musyawarah yang panjang, tak jarang adu pendapat dalam suasana ukhuwah.  Kita merasakan ketenangan ketika berjalan bersama menyusuri koridor kampus demi mengajak seseorang turut merasakan agama yang mulia ini.  Kita pun mungkin pernah berjalan dari satu mushalla ke mushalla yang lain demi membawa pamflet dakwah untuk disebar di mading mushalla, berlari bersama hujan saat membawa undangan kamat, menahan kantuk di malam hari demi menyelesaikan materi yang akan dibawakan esok harinya.  Kita pun merasakan betapa bahagianya ketika kamat dan daurah dipenuhi sesak peserta.  Betapa haru yang menyeruak ketika melihat adik – adik yang baru belajar Islam pun juga telah turut andil dalam perjuangan ini.  Betapa semangat semakin membara tatkala melihat mushalla penuh dengan aktivitas keagamaan, suasana yang sangat menghadirkan ketenangan, kedamaian.  Semua penat, lelah, pegal hilang seketika.  Seakan suasana seperti ini tak ingin tergantikan.
Tapi kemudian kita merasakan sesuatu yang berbeda.  Perlahan – lahan banyak kebaikan yang hilang dari diri kita.  Masalah demi masalah muncul satu per satu.  Pikiran yang cenderung tumpul, bimbang dan goyah dengan pendapat tertentu.  Jiwa kemudian merasakan kelemahan, kemalasan “aneh” yang menerpa, hingga menghalangi kita dari ketaatan, menahan kita dari gerak, membelenggu kita dari berpikir.  Saat itu, kita mungkin melakukan kebaikan di bawah tekanan yang “memaksa”.  Sesuatu yang terpaksa dilakukan sudah pasti kehilangan ruh, tanpa aura iman, tanpa cinta dan kerinduan, terasa kering dan kaku, hati terasa hampa.  Inilah yang dinamakan kefuturan, rasa lemah dan malas setelah sebelumnya semangat yang bergelora.
            Saudariku… Sudah sunnatullah, segala yang ada di dunia ini berpasangan, ada putih dan hitam, ada gelap dan terang, ada gembira dan sedih.  Tak terkecuali ketika seseorang mencelupkan dirinya pada satu aktivitas mulia, berdakwah ilallah.  Mereka pun akan mengalami dua hal yang berbeda, masa semangat dan masa malas (futur).  Futur adalah masa melambatnya gerakan setelah semangat, cenderung kepada malas dan diam, mengutamakan santai dan istrahat.  Futur hanya dialami oleh orang-orang yang pernah merasakan kondisi serius dan semangat dalam ketaatan dan berdakwah.  Saudariku… Di jalan ini memang penuh onak dan duri, penuh rintangan, penuh pengorbanan, namun akan berbuah manis dan kenikmatan.  Tidak ada kenikmatan bagi yang tidak mau berkorban untuk merasakan kenikmatan.  Seseorang tidak akan bisa merasakan lezatnya coklat panas dan roti tawar bakar ketika hujan di sore hari, bila ia tidak bergerak untuk membuatnya.  Coklat bubuk tidak akan lezat bila dimakan bersama roti tawar. 
            Di jalan ini, kita semua pernah mengalami situasi lemah, seperti juga umumnya orang – orang shalih.  Mereka mengalami kondisi futur sesuai tingkatannya masing-masing dan rentang waktu yang bebeda.  Ada yang hanya melewatinya dalam waktu yang relatif sebentar, ada pula yang lebih lama.  Saudariku…  Orang yang berhasil adalah orang yang mampu memendekkan waktu futurnya dan memanjangkan waktu semangatnya.
            Saudariku…  Ketika Allah memberi petunjuk kepada kita untuk menemui jalan ini, ketika Allah menempatkan kita berada pada barisan penyeru dakwah, ketika itulah sesungguhnya kita telah memilih jalan yang meletihkan.  Ketika itulah sebenarnya kita telah menjatuhkan pilihan untuk tidak banyak beristirahat, tidak membiarkan terlalu banyak dan lama mengidap penyakit malas (futur).
Saudariku…  Allah sangat mencintai kita, bahkan saat kita tergelincir pun.  Bersyukurlah atas semua kondisi yang kita dapatkan.  Di kala rasa futur itu hinggap, jang biarkan berlama – lama menetap bahkan bersemayam dalam diri kita. Merenung sendiri berhari – hari, menghindar dari akhwat, menjauh dari amanah, bukanlah solusi terbaik.  Mungkin saat itu kita merasakan ketenangan, tapi itu adalah ketengan yang semu.  Ketenangan yang abadi adalah ketika hati ini seantiasa mengingatNya, rindu bertemu denganNya.  Dan itu kita dapatkan bersama saudari fillah yang mencintai kita karena Allah. Kita dapatkan dalam mengamban amanah dakwah…
Saudariku…  Apa yang membuat kita berlama – lama dalam perasaan futur ini?
Coba renungkan bila Allah tidak mempertemukan kita dengan saudara – saudara di jalan dakwah…  Bila kita sampai saat ini tidak bertemu dengan kumpulan orang – orang yang mengajak kepada akhirat.  Bila tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk berdakwah, berada dalam barisan pengurus organisasi Islam, tidak terlibat dalam dakwah dan perjuangan ini.  Apa yang terjadi jika hari – hari kita tidak pernah disibukkan dengan dakwah dan tarbiyah, tetapi hidup dalam dunia yang menipu?  Apa pula yang kita lakukan saat ini bila kita tidak pernah dipertemukan dengan mereka yang tetap konsisten mengajak pada kebaikan?  Apa yang terjadi bila kenikmatan  - kenikmatan itu sudah tidak ada lagi?  Hilang bersama kefuturan yang kita pelihara, yang semakin hari semakin subur?  Sedang apa kita sekarang???
Inilah diantara nikmat dan kasih saying Allah kepada kita.  Jangan pernah berlama – lama dalam keterpurukan ukhti.  Insya Allah, setelah kesulitan ada kemudahan. 
Mari kembali…  Bersama berjuang di atas jalan ini, mencari ridha Allah.  Jannah menanti kita

Sudah Tawakkalkah Kita? (Renungan bagi Aktivis Dakwah Kampus)

-->

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana memberi rezeki kepada burung, (yang) pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (H.R Ahmad)

Suatu ketika, ada seorang sahabat datang menemui Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam namun untanya tidak diikat dengan mengatakan bertawakkal kepada Allah.  Rasulullah kemudian bersabda : “ikat dulu, baru bertawakkal” (H.R Ibnu Hibban dari Amr bin Umayyah ad-Darimi).
Tawakkal adalah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar (berusaha).  Sebagian ulama mengatakan, “Tidak dikatakan tawakkal, kecuali setelah adanya upaya dan ditempuhnya sebab.”
Secara toeri, konsep ini sangat mudah diingat dan diucapkan, tapi dalam tataran aplikasi, begitu banyak yang terjatuh, bahkan seorang aktivis dakwah kampus (ADK) sekali pun.  Padahal, dalil – dalil tersebut merupakan konsumsi sehari – hari bagi mereka. 
Wahai Aktivis Dakwah Kampus, sadarlah bahwa Syaithan sangat pintar dalam menggelincirkan manusia, begitu banyak senjata ampuh yang mereka miliki.  Maka dibutuhkan ilmu dan iman yang tebal dalam melakukan aktivitas keseharian kita.
Begitu banyak dalih yang dilontarkan seorang ADK ketika ditanya tentang kondisi dakwah kampusnya yang semakin terpuruk; “ini karena si fulanah terlalu larut dengan masalah pribadinya”, “si-PJ sibuk menyelesaikan skripsi”, “tidak ada yang berinisiatif, semua menunggu diarahkan sementara sang pemberi arahan hilang entah ke mana”, dsb.  Beginikah ADK hari ini?  Ketika dimintai pertanggungjawaban di hadapan manusia begitu banyak dalih yang dilancarkan, begitu banyak orang yang dengan mudahnya disebutkan bersalah dalam hal ini.  Hati – hati!!!!  Karena sikap saling menyalahkan terkadang lahir dari adanya perasaan kita yang lebih sibuk dibandingkan yang lain.  Bukankah ini juga bentuk sombong?
Kemaksiatan dalam diri seseorang akan mengundang hadirnya kemaksiatan yang lain.  Bisa jadi fenomena di atas muncul karena kurangnya tawakkal yang menghiasi pergerakan kita.  Tawakkal harusnya lahir setelah melakukan ikhtiar.  Namun, apa yang lahir dari seorang ADK setelah melakukan ikhtiar, berdakwah, mengajak saudarinya pada Islam?  Apa yang lahir pada diri kita saudariku??  Sudahkah tawakkal itu muncul dan mewarnai setiap perjalanan kita?  Atau justru yang lahir adalah sikap menyalahkan yang lain?  Mari berhenti sejenak, melihat ke belakang untuk meluruskan langkah kita ke depan.  Melihat dan merenungi, adakah tawakkal itu selalu hadir dalam aktivitas dakwah kita?  Dalam keseharian kita?
Keutamaan Tawakkal
1.      Dicukupkan rezekinya dan dimudahkan urusannya
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” (Q.S Ath Thalaq : 3)
Artinya, Allah menyelamatkan dan melepaskannya dari kesusahan dunia maupun akhirat, dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

2.      Dilindungi dari godaan syaithan
“Sesungguhnya tiada baginya syaithan memiliki kuasa untuk menggoda atas orang – orang yang beriman dan orang – orang yang bertawakkal kepada Allah” (Q.S An Nahl : 99)

3.      Menjadi orang yang kuat dan tangguh
Imam Ahmad mengatakan : Barang siapa ingin menjadi orang tekuat, hendaknya dia bertawakkal kepada Allah

4.      Dapat menolak kejahatan
Ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam dilempar ke dalam sumur, beliau membaca “hasbunallahu wa ni’mal wakil” sehingga diselamtkan oleh Allah.  Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga menyatakan sebagaiman Nabi Yusuf sehingga diselamatkan dari kobaran api.  Aisyah radhiallahu anhu juga membaca doa tersebut sehingga Allah selamatkan dari fitnah haditsul ifki (kabar bohong) yang dilontarkan orang – orang munafik.
Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Barangsiapa bersandar pada hartanya, maka ia akan berkurang; barangsiapa bersandar pada akalnya, maka akan sesat; barangsiapa bertumpu pada jabatan kedudukannya, maka ia menjadi hina; dan barangsiapa bersandar pada Allah, maka ia tidak akan kurang, sebab Allah akan mencukupinya, ia tidak akan sesat dan tidak pula terhina”

Subahanallah…  Indahnya perjuangan ini bila tawakkal menghiasi pergerakan kita.  Begitu banyak pertolongan yang Allah janjikan kepada orang – orang yang bertawakkal.  Ayat Al Quran yang menjadi motto sebagian ADK “intanshurullaha yanshurkum” insya Allah akan kita raih, dengan memperbanyak ibadah, dan tidak meninggalkan perintah Allah, salah satunya bertawakkal.  Allahu a’lam

Selasa, 21 Februari 2012

Untuk Sebuah Pilihan

Untuk sebuah pilihan

Untuk sebuah pilihan....
Kita banyak belajar untuk bersabar, tersenyum, menangis, saat tersakiti...

Untuk sebuah pilihan....

Kita harus terus bertahan.. dengan peluh yang bertambah-tambah, dengan lelah yang mengejar, menyuruh untuk sekedar istrahat...
tapi sekali lagi kita telah memilih... dan tentunya kita bukan pengecut kan??

Terlalu sering kepedihan itu datang... namun dunia ini terlalu singkat untuk mendepak kita mundur dari perjalanan yang lebih panjang...

Bukankan kita punya cita-cita besar?  Sehingga segala penghalang itu kita kecilkan??
Jika suatu saat aku, engkau, atau teman-teman seperjuangan melupakan pilihan ini.. Maka...

Ingat.., ingatlah peluh yang dulu terasa nikmat saat menetesi pelipis-pelipis kita.
Kenang.., kenganglah pegal yang menyelimuti tidurmu sedang engkau sangat bahagia dengannya...

Sebab dahulu engkau yakin bahwa istrahat bukan di sini.. dan engkaupun yakin bahwa penghalang-penghalang itu akan mengantarmu untuk menemui-Nya dengan leluasa..

Saat ini, kita sudah memilih..
Jangan pernah berpikir untuk mengganti pilihan ini dengan yang lain

Sebab meski di sini engkau acap tertatih, yakinlah Allah Maha Tahu bagaimana cara untuk menghapus kesedihanmu, menghibur kepenatanmu,
karena  Dia mencintaimu

Minggu, 29 Januari 2012

Mulia dengan Islam

Dia... yang mulia dengan Islam

Suatu hari...
Kumelihatnya berjalan sendiri menapaki jalan-jalan kerikil


Sesekali kulihat ia berhenti... sekedar beristrahat, menyeka keringat yang membasahi tubuhnya...
Yah..itulah rutinitasnya

Dia begitu tenang...berjalan, tanpa menghiraukan senyuman nakal para lelaki hidung belang.

Suatu sore, kumelihatnya kembali menapaki jalan kerikil itu
Tapi...ada yang beda dengannya, tidak seperti biasa
Kini...
Dia tampak anggun dalam balutan hijab kesempurnaan seorang muslimah
dan dia tidak sendiri...ada banyak muslimah yang berjalan bersamanya
dengan penuh ketawadhuan...
Wajahnya memancarkan cahaya kesejukkan..


Sore-sore berikutnya kumelihatnya kembali
Masih setia berjalan menapaki kerikil-kerikil itu...
Kulihat, semakin banyak orang yang bersamanya.

Kerikil-kerikil itu pun semakin banyak...semakin tajam.. tapi, ia masih menapakinya dengan penuh semangat
Sesekali kerikil itu melukainya... 
Tak jarang kumelihatnya menahan sakit karenanya...
Tapi...ia tetap tersenyum...dengan senyuman yang indah..

Kemarin, kembali kumelihatnya...
Dia masih saja menapaki kerikil-kerikil itu
Tapi...kini dia sendiri....
Kurasakan sungai-sungai mengalir dari balik hijabnya...
Sungai-sungai itu kadang rasanya manis..., pahit...,
Tak goyah, ia terus melangkah...

Tapi...aku resah melihatnya yang sendiri.
Di mana yang selama ini menyertainya???
Di mana pejalan-pejalan lainnya yang begitu semangat menapaki kerikil-kerikil itu???
Adakah mereka juga terluka oleh kerikil???
Apakah mereka kehilangan alas kaki sehingga terluka???
Tidak adakah obat yang mereka temukan untuk membuatnya kembali bisa berjalan di atas kerikil itu???

Apakah luka karena kerikil itu begitu dalam sehingga mereka enggan untuk kembali menapakinya???
Ke mana mereka???
Tiba-tiba, kumerindukan mereka yang dulu meramaikan perjalanan menapaki kerikil-kerikil itu...

Senja tadi...
Kumasih melihatnya menapaki kerikil itu...
Ia masih tetap tersenyum...
Ia masih tetap semangat dalam balutan hijabnya.
Ia terus melangkah...

Ya Allah...
Kuatkan pijakan kakinya....
Sejukkan hatinya dengan iman...
Buatlah ia tetap tersenyum sampai menemuiMu